Benteng Pendem Cilacap, Misteri Sejarah Yang Terpendam di Balik Tanah
Tersembunyi di balik gundukan tanah, Benteng Pendem Cilacap menyimpan kisah kolonial, peperangan, dan rahasia sejarah Nusantara.
Benteng Pendem di pesisir selatan Jawa bukan sekadar reruntuhan; ia menyimpan sejarah kolonial, perang dunia, dan kebangkitan nasional. Tersembunyi di balik gundukan tanah, benteng ini menyajikan cerita strategi militer Belanda, pertempuran, dan kini menjadi destinasi wisata budaya favorit di Cilacap, menarik pecinta sejarah dan penjelajah urban.
Berikut ini Archipelago Indonesia akan membawa pembaca menelusuri Benteng Pendem Cilacap, dari sejarah, arsitektur unik, hingga perannya kini.
Jejak Sejarah Dan Pembangunan
Benteng Pendem Cilacap dibangun pemerintahan Hindia Belanda bernama Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap, berarti “baterai pesisir di tanjung Cilacap.” Tujuannya mempertahankan pelabuhan strategis Cilacap dari ancaman laut dan serangan musuh. Letaknya dekat Teluk Penyu dan Pulau Nusakambangan, penting dalam jaringan pertahanan kolonial abad ke-19.
Pembangunan benteng dimulai tahun 1861 dan selesai 1879, memakan waktu hampir dua dekade. Benteng berdiri di atas lahan sekitar 10,5 hektar, dengan sistem pertahanan rumit serta bangunan fungsional seperti barak, klinik, dan gudang amunisi. Struktur ini menunjukkan kemampuan teknik militer Belanda dalam merancang benteng tahan lama.
Masyarakat setempat kemudian memberi nama “Pendem”, yang berarti terpendam, karena sebagian besar bangunan benteng tertimbun tanah akibat waktu dan proses alam. Sehingga, ketika pertama kali terlihat dari kejauhan, bentuknya menyerupai gundukan tanah bukan bangunan pertahanan.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Benteng Dalam Perang Dan Masa Setelahnya
Selama Perang Dunia II, ketika pasukan Jepang menduduki Hindia Belanda, Benteng Pendem diambil alih dan digunakan sebagai markas pertahanan tentara Jepang. Namun, mereka tidak pernah mengalami perubahan besar pada struktur utama benteng karena fungsinya tetap sama: sebagai tempat berlindung dan pertahanan.
Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, benteng ini sempat kembali dikuasai oleh tentara Belanda hingga penyerahan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949. Setelah itu, benteng sempat tidak terpakai dan mangkrak selama beberapa tahun.
Antara awal 1950-an hingga 1965, Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya Resimen Pasukan Komando, menggunakan Benteng Pendem untuk latihan pendaratan dan taktik militer. Setelah 1965, TNI meninggalkan benteng, sehingga bangunan perlahan tertimbun pasir dan tanah.
Baca Juga: Manjarite Beach, Destinasi Pantai Hits Yang Wajib Dikunjungi di Indonesia
Arsitektur Unik Dan Struktur Dalam Benteng
Salah satu hal paling menarik dari Benteng Pendem adalah teknik arsitekturnya. Para pembangun menggunakan bata merah, batu kapur, dan material alami lain untuk mendirikan benteng, hampir tanpa memakai besi. Metode ini membuat bangunan tetap kokoh meskipun telah berusia lebih dari satu abad.
Benteng ini dibangun berbentuk segi lima (fifgura pentagon) dan dikelilingi parit besar yang dulu berfungsi menghalangi serangan musuh. Parit ini panjang ratusan meter dan dahulu mencapai kedalaman yang memadai untuk memperlambat laju musuh.
Di dalam kompleks, tersisa berbagai ruangan penting seperti barak tentara, ruang klinik, ruang penjara, gudang amunisi, hingga bunker dan terowongan sepanjang puluhan meter. Pengunjung dapat menjelajahi lorong yang konon mengarah ke Nusa Kambangan, meski jalurnya belum sepenuhnya terbukti.
Transformasi Menjadi Destinasi Wisata
Pada tahun 1986, pemerintah Kabupaten Cilacap bersama masyarakat setempat menggali kembali benteng yang telah tertutup tanah. Proses tersebut membuka kembali struktur benteng yang telah lama tersembunyi dan memulai upaya pelestarian.
Pada 28 April 1987, pihak pengelola secara resmi membuka Benteng Pendem sebagai objek wisata sejarah. Sejak saat itu, benteng ini menjadi salah satu daya tarik utama di wilayah Cilacap, terutama bagi wisatawan yang ingin merasakan atmosfer sejarah kolonial dan militer.
Kini pengunjung dapat menjelajahi lorong-lorong tua, ruangan-ruangan gelap, parit-suram, serta belajar tentang peran benteng dalam sejarah Nusantara. Meski beberapa bagian sudah mengalami kerusakan karena waktu dan kondisi alam, nuansa misteri dan sejarah tetap kuat terasa di setiap sudutnya.
Ikuti selalu informasi terbaru tentang Archipelago Indonesia yang kami perbarui setiap hari dengan berita lengkap dan menarik untuk Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari merdeka.com
- Gambar Kedua dari travel.kompas.com
