Menjelajahi Jejak Sejarah di Benteng Van der Capellen
Benteng Van der Capellen di Batusangkar menyimpan jejak sejarah kolonial dan peperangan Paderi yang menarik untuk dijelajahi.
Benteng Van der Capellen, saksi bisu sejarah kolonial dan perjuangan bangsa, tegak kokoh di Batusangkar, Sumatera Barat; benteng ini merekam kisah peperangan Paderi dan perkembangan peran serta fungsinya. Dari pos militer hingga destinasi wisata sejarah, Benteng Van der Capellen terus menghadirkan pengalaman dan cerita bermakna bagi pengunjung.
Berikut ini Archipelago Indonesia akan membawa pembaca menelusuri Benteng Van der Capellen, mulai dari sejarah kolonial, arsitektur khas, hingga perannya sebagai destinasi wisata saat ini.
Sejarah Awal Dan Pembangunan Benteng
Pembangunan Benteng Van der Capellen bermula dari konflik Minangkabau antara Kaum Adat dan Kaum Agama awal abad ke-19. Para Haji yang kembali dari Mekkah memicu perseteruan dengan memurnikan ajaran Islam dan menentang praktik budaya lokal yang bertentangan syariat. Ketegangan yang memuncak akhirnya meletus menjadi peperangan terbuka.
Melihat kondisi yang semakin memanas, Kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda yang saat itu telah berkedudukan di Padang. Kolonel Raff memimpin pasukan Belanda ke Tanah Datar dan memilih lokasi strategis di Batusangkar untuk membangun markas pertahanan. Lokasi benteng dipilih di titik tertinggi, sekitar 500 meter dari pusat kota.
Pada 1824, Belanda mulai membangun benteng permanen dengan dinding setebal 75 cm dan parit pertahanan melingkar sejauh 4 meter. Benteng ini diberi nama Benteng Van der Capellen, mengacu pada Gubernur Jenderal Belanda saat itu, Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen. Pembangunan ini memberikan Belanda keunggulan militer dan politik di wilayah tersebut.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Peran Benteng Selama Perang dan Pendudukan
Benteng Van der Capellen menjadi saksi bisu beratnya perjuangan kolonial Belanda di Tanah Datar. Keberadaan benteng ini bukan hanya untuk memadamkan gerakan Kaum Agama, melainkan juga untuk menguasai secara politis kawasan Tanah Datar. Kesempatan ini pada akhirnya menyadarkan Kaum Adat yang semula mengizinkan Belanda masuk.
Selama Perang Dunia II, Benteng Van der Capellen mengalami pergantian kepemilikan. Setelah Belanda meninggalkan Batusangkar akibat Jepang merebut Sumatera Barat, benteng dikuasai Badan Keamanan Rakyat (BKR) dari 1943 hingga 1945. Setelah kemerdekaan Indonesia, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mengambil alih kendali benteng hingga 1947.
Namun, pada Agresi Belanda II, Benteng Van der Capellen kembali jatuh ke tangan Belanda selama dua tahun, yaitu dari tahun 1948 hingga 1950. Perjalanan benteng ini mencerminkan dinamika politik dan militer yang terjadi di Indonesia selama masa perjuangan kemerdekaan. Setiap perubahan kepemilikan meninggalkan jejak sejarahnya sendiri.
Baca Juga: Pesona Panorama Pantai Tanjung Lesung yang Memikat Hati
Evolusi Fungsi Pasca Kemerdekaan
Setelah Belanda akhirnya meninggalkan Batusangkar, Benteng Van der Capellen mulai bertransformasi fungsinya. Benteng ini sempat digunakan oleh PTPG, cikal bakal Universitas Negeri Padang, sebagai pusat kegiatan belajar mengajar hingga tahun 1955. Setelah PTPG pindah ke Bukit Gombak, benteng ini beralih fungsi menjadi markas Angkatan Perang Republik Indonesia.
Selama peristiwa PRRI 1957, Batalyon 439 Diponegoro menguasai Benteng Van der Capellen, kemudian menyerahkannya kepada POLRI pada 25 Mei 1960. POLRI menetapkan benteng sebagai Markas Komando Resort Kepolisian (Polres) Tanah Datar dan menjadikannya kantor polisi hingga 2000. Setelah Polres pindah, pihak pengelola meninggalkan benteng dan menghentikan fungsinya.
Selama periode itu, pihak pengelola melakukan beberapa perubahan fisik pada benteng. Pada 1974, pihak pengelola mengganti atap genteng dengan seng, kemudian menimbun parit sekitar benteng pada 1986. Pihak pengelola mengurangi jumlah sel tahanan untuk menyesuaikan benteng dengan kebutuhan fungsional yang berubah seiring waktu.
Restorasi Dan Daya Tarik Wisata
Pada 2008, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala memulai renovasi Benteng Van der Capellen. Tujuan restorasi ini adalah untuk mengembalikan bentuk asli benteng, menguatkan nilai sejarah dan arsitekturnya. Proses ini berlanjut pada tahun anggaran 2009, memastikan pelestarian situs bersejarah ini.
Saat ini, Benteng Van der Capellen telah utuh dan direnovasi, menjadikannya destinasi wisata sejarah yang menarik di Tanah Datar. Pengunjung dapat menjelajahi bangunan benteng, merasakan atmosfer masa lalu, dan memahami lebih dalam tentang sejarah perjuangan di Sumatera Barat. Benteng ini menawarkan pengalaman edukatif yang berharga.
Benteng Van der Capellen bukan hanya sebuah bangunan tua, melainkan sebuah monumen hidup yang menceritakan perjalanan panjang bangsa. Sejak 2008, Disparbud Tanah Datar mengelola benteng ini dan membuka akses publik sebagai benda cagar budaya. Lokasinya yang strategis dekat Kota Batusangkar memudahkan wisatawan menjangkaunya.
Ikuti selalu informasi terbaru tentang Archipelago Indonesia yang kami perbarui setiap hari dengan berita lengkap dan menarik untuk Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari id.wikipedia.org
- Gambar Kedua dari id.wikipedia.org
