Mengenang Benteng Frederik Hendrik, Jejak Sejarah Yang Lenyap di Jantung Jakarta

Benteng Frederik Hendrik dulunya berdiri megah di Jakarta, meninggalkan jejak sejarah penting yang kini telah lenyap.

Benteng Frederik Hendrik dulunya berdiri megah di Jakarta

Jakarta, kota metropolitan yang dinamis, menyimpan banyak kisah masa lampau, salah satunya keberadaan Benteng Frederik Hendrik. Fortifikasi Belanda ini, dulunya megah berdiri di Weltevreden, kini hanya tinggal kenangan.

Berikut ini Archipelago Indonesia akan membawa pembaca menelusuri Benteng Frederik Hendrik, mulai dari sejarah kolonial, arsitektur khas, hingga jejaknya di Jakarta saat ini.

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Asal-Usul Dan Latar Belakang Lokasi

Benteng Prins Frederik, nama resmi fortifikasi ini, dibangun oleh pemerintah Belanda di Batavia pada tahun 1837. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya “Gedung Tanah,” mungkin karena material bangunannya atau lokasinya. Keberadaan benteng ini adalah bagian dari upaya Belanda untuk memperkuat pertahanan di wilayah tersebut.

Sebelum menjadi benteng, lokasi ini memiliki sejarah panjang. Awalnya, di sana berdiri sebuah kedai minum sebelum tahun 1669. Pada tahun 1723, Sersan Mayor Herman van Baijen merenovasi kedai tersebut menjadi rumah peristirahatan besar.

Dari tahun 1743 hingga 1820, rumah peristirahatan ini berfungsi sebagai Rumah Sakit Luar. Orang memberi nama demikian karena benteng itu berada di luar tembok kota Batavia. Letak benteng ini dianggap strategis dan sehat, karena perbukitan rendah pedalaman menurunkan risiko malaria.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Pembangunan Dan Penamaan Benteng

Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memerintahkan pembangunan benteng pada tahun 1837. Insinyur Kolonel Carel van der Wyck merancang benteng, sementara Kapten Lucius Gerhard Johan George Schonermarck mengawasi pelaksanaannya.

Pangeran Willem Frederik Hendrik (1820–1879) memiliki peran penting dalam pembangunan benteng ini. Ia tidak hanya meletakkan batu pertama, tetapi juga meresmikan benteng tersebut. Penamaan “Prins Frederik” diambil dari nama pangeran tersebut, yang merupakan salah satu putra Raja William II dari Belanda.

Pangeran Willem Frederik Hendrik adalah salah satu dari sedikit anggota keluarga kerajaan Belanda yang pernah mengunjungi Hindia Belanda. Kehadirannya dalam peresmian benteng menambah nilai historis dan simbolis pada fortifikasi pertahanan ini.

Baca Juga: Menjelajahi Jejak Sejarah di Benteng Van der Capellen

Struktur Dan Taman Wilhelmina

 Struktur Dan Taman Wilhelmina

Benteng Frederik Hendrik dibangun dengan material batu bata, diperkuat oleh benteng alami di sekelilingnya. Bentuknya persegi, dengan selekoh (sudut yang menonjol) di setiap sudut, memungkinkan pandangan dan daya tembak yang luas.

Perancang benteng ini membuat jendela-jendelanya multifungsi, sehingga bisa digunakan sebagai lubang menempatkan meriam. Di tengah benteng, mereka membangun menara persegi dengan jam, jendela, dan pintu di setiap sisinya, berfungsi sebagai menara pantau.

Van den Bosch membangun Taman Wilhelmina yang indah pada tahun 1834 untuk mengelilingi Benteng ini. Taman seluas 9,32 hektar itu menjadi taman terbesar di Batavia pada masanya, bahkan salah satu taman modern terbesar di Asia, sekaligus berfungsi sebagai kebun sayur dan tempat rekreasi.

Akhir Dari Sebuah Benteng Dan Warisan

Meskipun dirancang sebagai benteng pertahanan, pasukan Belanda tidak pernah menggunakan Benteng Frederik Hendrik secara signifikan dalam pertempuran. Batavia tidak mengalami serangan besar hingga tahun 1942, saat benteng ini sudah tidak lagi relevan secara militer dan usianya sudah cukup tua.

Sekitar tahun 1961, pihak berwenang menghancurkan total Benteng Frederik Hendrik. Lahan yang dulunya merupakan lokasi benteng dan Taman Wilhelmina kini menjadi lokasi berdirinya Masjid Istiqlal. Penghancuran ini menandai berakhirnya sebuah era kolonial di Jakarta.

Belanda membangun Monumen Waterloo (atau Monumen Atjeh) di Taman Wilhelmina untuk mengenang tentara mereka yang gugur di Perang Aceh, namun monumen itu kini juga telah lenyap. Dengan demikian, Benteng Frederik Hendrik menjadi salah satu simbol sejarah yang secara fisik telah menghilang, namun kisahnya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi Jakarta.

Ikuti selalu informasi terbaru tentang Archipelago Indonesia yang kami perbarui setiap hari dengan berita lengkap dan menarik untuk Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari id.wikipedia.org
  • Gambar Kedua dari id.wikipedia.org

Similar Posts