Benteng Kota Janji Ternate, Megah di Mata, Gelap Dan Berdarah di Baliknya

Benteng Kota Janji di Ternate tampak megah, namun menyimpan kisah gelap dan pengkhianatan berdarah di masa lalu.

Benteng Kota Janji di Ternate tampak megah

Benteng Kota Janji di Kelurahan Ngade, Ternate Selatan, Maluku Utara, menyimpan cerita kelam tentang janji dan pengkhianatan. Peninggalan Portugis ini menjadi saksi bisu peristiwa penting Ternate, dari perjanjian damai hingga pembunuhan keji. Setiap batu seolah menyimpan rahasia tragis, menjadikannya salah satu monumen paling dramatis di kepulauan rempah.

Berikut ini Archipelago Indonesia akan membawa pembaca menelusuri Benteng Kota Janji Ternate, mulai dari sejarah kelam, pengkhianatan berdarah, hingga jejaknya di kepulauan rempah saat ini.

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Saksi Bisu Perjanjian Berdarah

Menurut cerita turun-temurun di masyarakat, masyarakat memberi nama ‘Kota Janji’ pada benteng ini karena Sultan Khairun menyepakati perjanjian dengan bangsa Portugis di sini. Sultan Khairun dan Portugis berharap perjanjian itu membawa kedamaian, namun justru menimbulkan peristiwa yang tak terduga dan tragis.

Ironisnya, alih-alih mendapatkan kedamaian, Sultan Khairun justru dikhianati dan dibunuh secara keji oleh Portugis di Benteng Kastela pada tahun 1750. Peristiwa ini menjadi salah satu noda hitam dalam sejarah kolonialisme di Indonesia, menunjukkan betapa liciknya taktik penjajah.

Setelah pengusiran Portugis dari Ternate, Benteng Kota Janji tidak lantas sepi dari pendudukan asing. Benteng ini kemudian pernah diduduki oleh bangsa Spanyol dan Belanda, menandakan betapa strategisnya lokasi benteng ini dalam peta kekuasaan di Nusantara.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Dari Fort San Jao ke Santo Pedro Y Paulo

Benteng Kota Janji dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1532, dengan nama awal Fort San Jao atau Benteng San Jao. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga keamanan antara Ternate dan Tidore, serta mengantisipasi serangan bangsa Spanyol yang telah mendiami kawasan Tidore.

Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, pembangunan Benteng San Jao membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan, ketika Sultan Baabullah, putra Sultan Khairun, mengalahkan bangsa Portugis dan mengusir mereka dari Ternate pada tahun 1575, orang-orang belum juga menyelesaikan pembangunan benteng ini sepenuhnya.

Setelah Portugis angkat kaki, bangsa Spanyol menduduki Benteng San Jao dan menyelesaikan pembangunannya. Ketika mereka menyelesaikannya pada tahun 1606, bangsa Spanyol mengganti nama benteng ini menjadi Santo Pedro Y Paulo, mengambil nama dari Gubernur Jenderal Don Pedro de Acuna.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan tentang Suku Rejang, Suku Tertua di Bengkulu

Peran Strategis di Bawah Spanyol Dan Belanda

 Peran Strategis di Bawah Spanyol Dan Belanda

Sejak selesai dibangun dan berganti nama menjadi Santo Pedro Y Paulo, bangsa Spanyol menggunakan benteng ini sebagai basis militer. Fungsinya sangat vital untuk mengawasi perairan strategis antara Ternate dan Tidore, mengukuhkan dominasi Spanyol di wilayah tersebut.

Namun, kekuasaan Spanyol di Ternate tidak berlangsung selamanya. Pada tahun 1663, Belanda akhirnya mengusir bangsa Spanyol dari Ternate dan mengambil alih kendali atas benteng tersebut. Pergantian kekuasaan ini menunjukkan dinamika persaingan kolonial yang sengit.

Belanda kemudian memanfaatkan Benteng Kota Janji sebagai basis pengintaian, khususnya untuk mengawasi perairan selatan. Jalur perairan ini merupakan jalur pelayaran penting dari Ternate menuju Kepulauan Ambon maupun sebaliknya, menjadikannya posisi yang krusial untuk mengontrol perdagangan rempah.

Terbengkalai Dan Tersisa Reruntuhan

Meskipun memiliki sejarah panjang dan peran strategis, Belanda tidak lama menduduki Benteng Kota Janji. Setelah Belanda meninggalkannya, orang-orang membiarkan benteng ini terbengkalai, dan waktu perlahan-lahan menghancurkannya, bahkan hingga Indonesia meraih kemerdekaannya.

Saat ini, kondisi Benteng Kota Janji sudah tidak utuh lagi. Hanya menyisakan fondasi, tangga, dan sebagian dinding yang masih berdiri. Reruntuhan ini menjadi saksi bisu bisu dari kejayaan dan kehancuran masa lalu.

Fondasi benteng ini memiliki bentuk yang menyerupai bintang, namun uniknya hanya memiliki empat sudut lancip. Meski kini hanya berupa puing, Benteng Kota Janji tetap menjadi pengingat penting akan sejarah kelam kolonialisme dan perjuangan bangsa Indonesia.

Ikuti selalu informasi terbaru tentang Archipelago Indonesia yang kami perbarui setiap hari dengan berita lengkap dan menarik untuk Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari kompas.com
  • Gambar Kedua dari id.wikipedia.org

Similar Posts