Benteng Amsterdam, Saksi Bisu Jejak Sejarah di Maluku
Benteng Amsterdam di Maluku menjadi saksi bisu sejarah panjang, mencatat kolonialisme, perjuangan lokal, dan perkembangan peradaban Nusantara.
Indonesia kaya peninggalan sejarah, salah satunya Benteng Amsterdam di Maluku. Benteng ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi perjalanan kolonialisme, perebutan kekuasaan, dan perkembangan peradaban Nusantara. Berdiri kokoh di tengah keindahan Maluku, Benteng Amsterdam menyimpan cerita ambisi bangsa Eropa dan perjuangan masyarakat lokal.
Berikut ini Archipelago Indonesia akan membahas secara lengkap sejarah, arsitektur, dan pengalaman wisata di Benteng Amsterdam, Maluku.
Sejarah Awal Dan Perebutan Kekuasaan
Benteng Amsterdam awalnya loji milik Portugis, berfungsi sebagai gudang rempah-rempah penting seperti pala dan cengkih. Lokasinya strategis di Teluk Ambon, menjadikannya pusat perdagangan sekaligus basis pertahanan. Bangunan utama pertama kali didirikan Portugis pada 1512 di bawah pimpinan Francisco Serrão.
Seiring waktu, keserakahan Portugis dalam memonopoli rempah-rempah memicu perlawanan rakyat Maluku hingga akhir abad ke-16. Situasi ini dimanfaatkan Belanda, yang kemudian berhasil menguasai Pulau Ambon pada tahun 1605. Belanda mengalahkan Portugis dan mengambil alih loji tersebut, menandai babak baru dalam sejarah bangunan ini.
Gubernur Jenderal Jaan Ottens pada tahun 1637 mengubah loji Portugis menjadi kubu pertahanan yang lebih kokoh. Perubahan fungsi ini didorong oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pertempuran sengit antara Belanda dengan Kerajaan Tanah Hitu yang dipimpin Kapitan Kakialy (1633-1654). Transisi ini mengukuhkan dominasi Belanda di Maluku.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Pembangunan Dan Perkembangan Benteng
Pada 1637, Jaan Ottens menghancurkan loji Portugis dan membangun rumah batu berbentuk benteng dengan pagar pelindung. Gerrard Demmer kemudian memperluas dan melanjutkan pembangunan pada 1642. Kemudian, Anthony Caan, Gubernur Jenderal berikutnya, melanjutkan pembangunan benteng tersebut.
Penyelesaian pembangunan Benteng Amsterdam akhirnya tercapai antara tahun 1649 hingga 1656 di bawah pengawasan Arnold de Vlaming van Ouds Hoorn. Beliaulah yang menamai bangunan ini “Benteng Amsterdam”. Namanya menjadi simbol kehadiran dan kekuasaan Belanda yang kuat di wilayah tersebut.
Sejak saat itu, Benteng Amsterdam menjadi salah satu pusat kekuatan VOC di Ambon, Maluku. Benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai markas militer tetapi juga sebagai pusat logistik untuk mengendalikan perdagangan rempah-rempah yang menjadi komoditas utama pada masa itu.
Baca Juga: Liburan Tropis Tak Terlupakan! Jelajahi Pesona Gili Trawangan, Meno dan Air
Konstruksi Dan Arsitektur Unik
Benteng Amsterdam memiliki konstruksi yang unik menyerupai rumah, sehingga Belanda menjulukinya “Blok Huis”. Bangunan ini terdiri dari tiga lantai dengan menara pengintai di puncaknya. Para pembangun menggunakan bata merah untuk lantai satu, sementara lantai dua dan tiga mereka buat dari kayu, menunjukkan adaptasi dengan sumber daya lokal.
Di bawah benteng terdapat penjara dan gudang mesiu, menegaskan fungsi pertahanannya. Para arsitek memasang jendela di setiap sisi untuk pengintaian dan ventilasi. Di depan benteng, prasasti bertuliskan ‘BENTENG AMSTERDAM’ dengan lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mencatat pembangunan oleh Gerrard Demmer pada 1642.
Para prajurit menempati lantai satu sebagai barak, para perwira menggunakan lantai dua untuk pertemuan, dan pengawas memantau dari lantai tiga. Benteng ini, meskipun atapnya tidak asli lagi, berdiri megah di tepi laut menghadap Pulau Seram, menawarkan pemandangan indah. Pengelola benteng kini menambahkan museum kecil yang menampilkan peninggalan masa lalu.
Kisah Rumphius Dan Revitalisasi
Benteng Amsterdam menjadi saksi bisu perjalanan Georg Everhard Rumphius, seorang naturalis Jerman yang tinggal di sana antara tahun 1627 hingga 1702. Rumphius mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari flora dan fauna di Pulau Ambon, meninggalkan warisan ilmu pengetahuan yang berharga bagi dunia.
Ia juga mencatat gempa dan tsunami dahsyat Ambon 1674, menunjukkan ketangguhan Benteng Amsterdam yang tetap berdiri tegak. Benteng ini menjadi daya tarik wisatawan, menawarkan spot foto menarik dengan latar belakang laut. Kini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berencana membangun Museum Rumphius di Ambon pada 2025.
Belanda meninggalkan benteng dalam kondisi rusak dan ditumbuhi pohon beringin pada awal 1900-an. Namun, antara Juli 1991–Maret 1994, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Kantor Wilayah Maluku memugar komprehensif, memastikan Benteng Amsterdam tetap lestari sebagai warisan budaya bangsa.
Jangan lewatkan info terbaru tentang Archipelago Indonesia, selalu diperbarui setiap hari, menyajikan berita lengkap dan menarik untuk Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari id.wikipedia.org
- Gambar Kedua dari gayahidup.rri.co.id
