|

Benteng Duurstede, Jejak VOC Dan Api Perjuangan di Maluku

Benteng Duurstede berdiri megah menyimpan kisah kolonialisme, perdagangan rempah, serta heroisme rakyat Maluku melawan penindasan.

Benteng Duurstede berdiri megah menyimpan kisah kolonialisme

Benteng Duurstede adalah salah satu warisan sejarah penting dari masa kolonial di Indonesia, berdiri kokoh di Pulau Saparua, Maluku. Dikenal sebagai benteng Belanda abad ke-17, bangunan ini menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang membentuk sejarah Maluku dan Indonesia.

Berikut ini Archipelago Indonesia akan membawa pembaca mengenal benteng ini lebih jauh melalui sejarahnya, arsitektur yang unik, peran dalam perlawanan lokal, hingga kondisi dan peranannya di masa kini.

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Sejarah Awal Dan Pendirian

Benteng Duurstede pertama kali dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1676 sebagai pos pertahanan penting di Maluku. Setelah direbut oleh Belanda, bangunan ini dimanfaatkan kembali dan dirombak menjadi benteng yang lebih strategis oleh Gubernur Ambon, Nicolaas Schaghen, sekitar tahun 1690–1691.

Nama “Duurstede” sendiri dikaitkan dengan asal gubernur tersebut dari negeri Belanda, mencerminkan pengaruh kuat VOC pada masa itu. Parcaya sejarah mengatakan benteng ini menjadi pusat pemerintahan VOC dan pertahanan militer untuk melindungi perdagangan rempah, terutama cengkih.

Lokasi benteng dipilih secara strategis di atas tebing pantai Saparua, memudahkan pengawasan jalur laut dan pelabuhan di sekitarnya. Keunggulan posisi inilah yang membuat benteng cepat menjadi pusat kegiatan VOC di wilayah lease (Maluku) selama beberapa dekade.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Arsitektur Dan Struktur Benteng

Benteng Duurstede memiliki struktur unik dengan bentuk dasar seperti wajik memanjang, mengikuti kontur tebing karang tempat ia berdiri. Bentuk ini berbeda dari benteng klasik Eropa, namun tetap memenuhi kebutuhan pertahanan.

Pada sudut utara dan selatan benteng terdapat bastion berbentuk setengah lingkaran dengan embrasures atau lubang meriam. Dari situ, tentara VOC dapat mengawasi dan menembakkan meriam ke laut atau daratan jika terjadi serangan.

Para pembangun menyusun dinding benteng dari batu koral dengan ketebalan dan ketinggian besar untuk menahan serangan. Mereka merancang pintu masuk melalui gerbang kecil dan membangun 24 anak tangga batu untuk memperkuat kesan monumental sekaligus menciptakan sistem pertahanan yang efektif.

Baca Juga: Surga Tersembunyi di Timur Madura: Inilah Keindahan Kepulauan Kangean

Benteng Duurstede Dan Perlawanan Rakyat

 Benteng Duurstede Dan Perlawanan Rakyat

Benteng Duurstede bukan sekadar pangkalan VOC, ia juga menjadi saksi peristiwa heroik perlawanan rakyat Saparua pada 16 Mei 1817. Di bawah pimpinan Kapitan Pattimura, rakyat menyerbu benteng ini sebagai bentuk penolakan terhadap monopoli dan eksploitasi Belanda.

Dalam serangan itu, pasukan rakyat menewaskan sebagian besar penghuni VOC di benteng, sementara mereka menyelamatkan putra seorang residen Belanda. Kejadian ini membuat kedudukan VOC di wilayah Maluku terguncang dan memaksa mereka merencanakan kembali strategi mempertahankan kekuasaan.

Meskipun VOC akhirnya berhasil merebut kembali benteng dengan bantuan pasukan dari Ternate dan Tidore, masyarakat tetap mengenang peristiwa ini sebagai simbol perjuangan rakyat lokal melawan kolonialisme. Bangsa Indonesia kemudian menetapkan Kapitan Pattimura sebagai pahlawan nasional atas keberanian dan perjuangannya.

Kondisi Kini Dan Nilai Budaya

Saat ini Benteng Duurstede telah mengalami berbagai pemugaran dan menjadi objek wisata sejarah yang menarik di Maluku. Pengelola tetap menjaga keutuhan struktur dasar benteng dan membuka kawasan ini untuk umum sebagai situs pendidikan serta kebudayaan.

Beberapa bagian bangunan dalam benteng telah menjadi reruntuhan, namun fondasinya memberi gambaran tentang kehidupan militer dan administrasi zaman VOC. Pengunjung dapat menjelajahi lorong, bekas ruang, dan meriam yang masih tersisa sebagai peninggalan sejarah.

Pemerintah menetapkan Benteng Duurstede sebagai cagar budaya nasional Indonesia sehingga benteng ini menjadi bagian penting dalam pelestarian warisan sejarah bangsa. Keindahan panoramanya dan kisah sejarahnya menjadikan benteng ini destinasi edukatif bagi wisatawan.

Ikuti selalu informasi terbaru tentang Archipelago Indonesia yang kami perbarui setiap hari dengan berita lengkap dan menarik untuk Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari id.wikipedia.org
  • Gambar Kedua dari id.wikipedia.org

Similar Posts