DI/TII! Dari Ideologi Hingga Pemberontakan Bersenjata Di Nusantara
Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menjadi babak penting sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan, mencerminkan perjuangan kesatuan.
Gerakan ini berawal dari ideologi pembentukan negara Islam dan berkembang menjadi pemberontakan bersenjata yang meluas di berbagai wilayah Nusantara, meninggalkan jejak konflik sosial, politik, dan ekonomi yang signifikan.
Jelajahi rangkuman berita menarik dan terpercaya lainnya yang memperluas wawasan Anda secara eksklusif di Archipelago Indonesia.
Awal Mula Dan Ideologi Utama
Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) memicu konflik politik pertama di Indonesia setelah kemerdekaan. Gerakan ini bertujuan agar Indonesia menjadi negara Islam. Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo memulai gerakan ini sekitar tahun 1948-1949 di Jawa Barat.
Pada tanggal 10-11 Februari 1948, Kartosuwirjo dan Oni mengadakan Konferensi Umat Islam di Tasikmalaya. Konferensi ini menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Di saat yang sama, Tentara Islam Indonesia (TII) juga dibentuk sebagai gerakan perlawanan dari NII.
Saat momen kekosongan pemerintahan setelah Perjanjian Roem-Roijen pada pertengahan 1949, DI/TII memproklamasikan NII. Pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosuwirjo memproklamirkan pendirian NII. Hukum yang berlaku dalam NII adalah hukum Islam, dengan Al-Quran dan Hadits sebagai hukum tertinggi.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Perluasan Pemberontakan Ke Berbagai Daerah
Pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwirjo di Jawa Barat menjadi basis gerakan besar yang didukung oleh mayoritas penduduk setempat. Setelah itu, pemberontakan ini menyebar ke berbagai daerah lain seperti Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Setiap daerah memiliki latar belakang pemberontakan yang berbeda, meskipun tujuan umumnya sama, yaitu mendirikan Negara Islam Indonesia.
Di Jawa Tengah, Amir Fatah memimpin pemberontakan DI/TII karena menganggap pemerintah Indonesia terlalu berpihak pada golongan kiri. Pada 23 Agustus 1949, Amir Fatah memimpin operasi gerakan di Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Ia memproklamasikan NII di desa Pengarasan pada 28 April 1949, didukung oleh Laskar Hizbullah dan Majelis Islam.
Pemberontakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh ulama besar Tengku Muhammad Daud Beureueh, yang menyatakan Aceh bagian dari DI/TII pada 21 September 1953. Di Sulawesi Selatan, Kahar Muzakar memimpin Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan menyatakan diri sebagai bagian dari NII pada tahun 1952. Ibnu Hajar memimpin Kesatuan Rakyat Yang Tertindas (KRYT) di Kalimantan Selatan karena ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat.
Baca Juga: Rahasia Pantai Uluwatu yang Jarang Diketahui Wisatawan
Upaya Penumpasan Dan Penyelesaian Konflik
Pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya menumpas pemberontakan DI/TII, salah satunya melalui konfrontasi fisik. Pada 8 Desember 1950, pemerintah melarang secara resmi organisasi DI/TII. Operasi militer intensif, seperti strategi pagar betis oleh Kodam VI Siliwangi pada tahun 1960, berhasil menangkap Kartosuwirjo.
Untuk menumpas pemberontakan di Jawa Tengah, pemerintah membentuk pasukan khusus bernama Banteng Raider. Operasi militer ini menumpas DI/TII di Jawa Tengah. Aparat menangkap Amir Fatah, pemimpin DI/TII Jawa Tengah, pada 22 Desember 1950 saat ia mencoba bergabung dengan Kartosuwiryo.
Penyelesaian pemberontakan di Aceh melibatkan operasi militer dan perundingan. Pada tahun 1962, tercapai kesepakatan antara pemerintah RI dan Aceh, menjadikan Aceh provinsi tersendiri sebagai daerah istimewa. Di Sulawesi Selatan, Kahar Muzakar tewas tertembak pada Februari 1965, mengakhiri pemberontakan di sana. Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan ditangkap pada tahun 1963 dan dijatuhi hukuman mati, sehingga pemberontakan berakhir.
Dampak Dan Warisan Sejarah
Pemberontakan Kartosuwirjo menimbulkan beberapa dampak, termasuk penyebaran pemberontakan ke daerah-daerah lain. Gerakan ini menyebabkan konflik berkepanjangan yang berdampak pada aspek sosial, politik, dan ekonomi, serta mempengaruhi stabilitas keamanan nasional. Masyarakat juga menunjukkan ketidakpuasan terhadap DI/TII melalui demonstrasi.
Pemberontakan ini sulit dipadamkan karena semangat jihad sebagian umat Muslim Indonesia, lokasi geografis NKRI yang mendukung gerakan gerilya, fokus TNI yang terbagi untuk menghadapi Belanda, dan simpati rakyat terhadap perjuangan Kartosuwiryo. Hal ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah dalam mempertahankan stabilitas dan persatuan negara.
Pemberontakan ini sulit dipadamkan karena semangat jihad sebagian umat Muslim Indonesia, geografis NKRI mendukung gerilya, TNI terbagi menghadapi Belanda, dan rakyat menyokong perjuangan Kartosuwiryo. Peristiwa ini menyoroti kompleksitas perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan wilayah.
Selalu pantau berita terbaru seputar Archipelago Indonesia dan info menarik lain yang membuka wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari kompaspedia.kompas.id
- Gambar Kedua dari kompas.com
