Kakao, Dari Kebun Hingga Jadi Cokelat Lezat Yang Memikat Dunia

​Kakao, tanaman tropis yang bijinya menjadi bahan baku utama cokelat, memiliki sejarah panjang dan kaya yang membentang ribuan tahun.​

Kakao, Dari Kebun Hingga Jadi Cokelat Lezat Yang Memikat Dunia

Berasal dari hutan hujan Amerika Tengah dan Selatan, kakao telah dipuja oleh peradaban kuno sebagai makanan para dewa, mata uang, dan simbol kekayaan. Kini, kakao tidak hanya menjadi komoditas global yang penting, tetapi juga terus memikat indra kita dengan kelezatan cokelat.

Berikut ini, Archipelago Indonesia akan menelusuri lebih dalam perjalanan luar biasa dari biji kakao ini.

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Sejarah Panjang Kakao, Warisan Peradaban Kuno

Kakao memiliki akar sejarah yang kuat, berawal dari peradaban kuno Mesoamerika. Suku Maya dan Aztec diyakini sebagai yang pertama membudidayakan dan mengolah biji kakao. Mereka menggunakannya untuk membuat minuman pahit yang disebut “xocolatl”, sebuah minuman ritual yang kaya akan makna budaya dan spiritual.

Bagi peradaban ini, kakao bukan sekadar makanan. Biji kakao bahkan digunakan sebagai mata uang, menunjukkan nilai ekonomis dan sosialnya yang tinggi. Kekayaan seseorang diukur dari kepemilikan biji kakao, mencerminkan betapa berharganya komoditas ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Kedatangan penjelajah Spanyol ke Dunia Baru pada abad ke-16 mengubah takdir kakao. Hernán Cortés disebut-sebut sebagai orang Eropa pertama yang merasakan minuman kakao dan membawanya ke Eropa. Dari sana, kakao perlahan menyebar ke seluruh benua, beradaptasi dengan selera dan budaya baru.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Perjalanan Kakao Menuju Cokelat Modern

Ketika kakao tiba di Eropa, rasanya yang pahit awalnya kurang diminati. Namun, para bangsawan Spanyol mulai menambahkan gula dan rempah-rempah seperti vanila dan kayu manis, mengubahnya menjadi minuman yang lebih manis dan mewah. Inilah cikal bakal minuman cokelat yang kita kenal sekarang.

Selama berabad-abad, cokelat menjadi minuman eksklusif kaum elit. Proses pembuatannya yang rumit dan bahan baku yang langka menjadikannya simbol status. Hanya mereka yang kaya dan berkuasa yang mampu menikmati kelezatan “makanan para dewa” ini.

Revolusi industri pada abad ke-19 membawa perubahan besar. Penemuan mesin pengolah kakao oleh Coenraad Johannes van Houten pada tahun 1828, yang memungkinkan pemisahan lemak kakao dari bubuk kakao, membuka jalan bagi produksi cokelat batangan modern. Ini democratized cokelat, membuatnya lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.

Baca Juga: Goa Jomblang, Pesona Gua Vertikal Dengan Cahaya Surga Yang Memukau

Proses Transformasi Biji Kakao Menjadi Cokelat

Proses Transformasi Biji Kakao Menjadi Cokelat

Perjalanan dari biji kakao hingga menjadi sebatang cokelat melibatkan serangkaian proses yang kompleks. Dimulai dengan panen buah kakao dari pohonnya, biji-biji kakao yang masih terbungkus pulp kemudian difermentasi. Fermentasi ini penting untuk mengembangkan cita rasa dan aroma khas cokelat.

Setelah fermentasi, biji kakao dikeringkan di bawah sinar matahari atau dengan mesin pengering. Proses pengeringan ini mengurangi kadar air dan mencegah pertumbuhan jamur. Biji kakao kering ini kemudian siap untuk diekspor ke pabrik-pabrik pengolahan cokelat di seluruh dunia.

Di pabrik, biji kakao dipanggang, dipecah menjadi nib kakao, dan digiling menjadi pasta kakao atau liquor kakao. Pasta ini kemudian dapat diolah lebih lanjut menjadi bubuk kakao atau mentega kakao, yang kemudian dicampur dengan gula, susu, dan bahan lainnya untuk menciptakan berbagai jenis cokelat yang kita nikmati.

Manfaat Kakao Dan Tantangan Di Balik Produksinya

Kakao tidak hanya lezat, tetapi juga kaya akan antioksidan, terutama flavonoid, yang baik untuk kesehatan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi cokelat hitam dalam jumlah moderat dapat membantu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan fungsi otak.

Namun, produksi kakao juga menghadapi tantangan besar. Sebagian besar petani kakao berada di negara berkembang, seringkali bergulat dengan kemiskinan, praktik perburuhan anak, dan deforestasi. Harga komoditas yang fluktuatif juga menambah ketidakpastian bagi para petani.

Upaya global sedang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah ini melalui sertifikasi kakao berkelanjutan seperti Rainforest Alliance dan Fairtrade. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, melindungi lingkungan, dan memastikan pasokan kakao yang etis dan bertanggung jawab untuk masa depan.

Simak dan ikuti terus informasi terlengkap tentang Archipelago Indonesia yang akan kami berikan terupdate setiap harinya hanya untuk Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari freyabadi.com
  • Gambar Kedua dari freyabadi.com

Similar Posts