Tak Lagi Abadi, Salju di Puncak Jayawijaya Diprediksi Akan Hilang 2026

​Salju abadi di Puncak Jayawijaya, Papua, yang selama ini menjadi kebanggaan Indonesia, diprediksi akan hilang total pada tahun 2026.​

Tak Lagi Abadi, Salju di Puncak Jayawijaya Diprediksi Akan Hilang 2026

Salju abadi di Papua ini diprediksi akan hilang sepenuhnya pada tahun 2026. Sebuah fenomena yang menegaskan dampak nyata dari perubahan iklim global​.

Fenomena ini merupakan bukti nyata dari dampak perubahan iklim global yang semakin mengkhawatirkan.

Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran .

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Hilangnya Keindahan Salju Abadi

​Salju abadi di Puncak Cartenz, Pegunungan Jayawijaya, Papua, yang merupakan satu-satunya tempat di Indonesia yang memiliki gletser. Diperkirakan akan lenyap pada tahun 2026, ​prediksi ini didasarkan pada riset yang dilakukan oleh Tim Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

​Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa situasi ini dipicu oleh adanya perubahan iklim. ​Hilangnya salju abadi ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar teori, melainkan sebuah kenyataan yang berdampak langsung.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Dampak Nyata Perubahan Iklim

Data dan pemantauan menunjukkan penyusutan drastis pada ketebalan dan luasan es di Puncak Jayawijaya. ​Pemantauan kondisi salju abadi di Puncak Jaya telah dilakukan sejak tahun 2010, dengan tim peneliti memasang tiang berupa potongan pipa yang disambung dengan tali untuk dimonitor secara berkala.

​Pada tahun 2010, ketebalan es awalnya mencapai 32 meter. ​Namun, pada periode November 2015 hingga Mei 2016, ketebalannya menyusut drastis menjadi hanya 5,6 meter. ​Kondisi ini semakin memburuk, dengan ketebalan es yang tersisa hanya 4 meter pada tahun 2024.

​Menurut Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG, Donaldi Sukma Permana. Penurunan ini sangat signifikan dan sulit dipertahankan. Bahkan sudah memasuki tahap di mana mempertahankannya hampir mustahil.

​Luasan es juga terus menyusut secara signifikan. ​Penelitian terbaru BMKG Pusat pada tahun 2022 mencatat luasan salju di puncak mencapai 0,23 kilometer persegi. ​Namun, survei pada tahun 2024 menunjukkan penyusutan menjadi 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi.

​Sejak tahun 1850, luas gletser yang awalnya mencapai 19,3 kilometer persegi terus menyusut drastis pada tahun 1972. Luasnya hanya tersisa 7,3 kilometer persegi, dan pada tahun 2018 menyusut menjadi 0,5 kilometer persegi. ​

Staf BMKG, Najib Habibie, menambahkan bahwa hasil monitoring terbaru memperlihatkan patok pengukur ketebalan es yang ditanam sejak tahun 2010 kini sudah terekspos seluruhnya ke permukaan, membuktikan pemanasan global sudah nyata.

Baca Juga: Air Terjun Nolokla, Wisata yang Wajib Dikunjungi Saat di Papua

Pemicu Utama​ Hilangnya Salju Abadi

Pemicu Utama_ Hilangnya Salju Abadi

Penyebab utama pencairan salju abadi di Puncak Jayawijaya adalah laju perubahan iklim global yang semakin tidak terkendali. ​Pemanasan global diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca, yang menyebabkan suhu permukaan di Indonesia meningkat rata-rata 1,5 derajat Celsius, dengan peningkatan 0,25 derajat Celsius per dekade.

​Selain itu, faktor curah hujan yang tinggi juga memengaruhi percepatan pencairan salju. ​Dulu, embun dan uap air di Puncak Jayawijaya akan membeku menjadi salju. Tetapi kini hujan lebih sering turun dan justru mempercepat pencairan es.

​Kombinasi hujan, panas bebatuan dari bawah. Dan perubahan iklim menyebabkan proses pencairan salju semakin signifikan. ​Fenomena El Niño juga turut mempercepat pencairan gletser ini, menyebabkan kenaikan suhu permukaan laut dan atmosfer yang berujung pada berkurangnya curah hujan di beberapa wilayah serta meningkatnya intensitas hujan di wilayah lain, termasuk Papua.

Dampak Kehilangan Salju Abadi

​Hilangnya salju abadi di Puncak Jayawijaya tidak hanya berdampak pada lanskap alam. Tetapi juga kehidupan masyarakat sekitar dan ekosistem. ​

Salju di puncak ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di daerah pegunungan Papua. Sehingga kehilangannya dapat memengaruhi sumber air yang digunakan oleh flora dan fauna setempat serta masyarakat adat. ​

Gletser juga berkontribusi terhadap pasokan air bagi sungai-sungai di Papua ketika gletser menghilang. Aliran sungai dapat berkurang secara signifikan. Mengancam pasokan air bagi masyarakat dan ekosistem di daerah hilir.

​Secara budaya dan spiritualitas, gletser di Puncak Jayawijaya memiliki nilai tinggi bagi masyarakat adat Papua. Terutama suku Dani dan suku lainnya di sekitarnya. Yang menganggapnya sebagai entitas sakral.

​Kehilangannya akan menjadi kehilangan simbolis yang besar bagi mereka. ​Hilangnya salju Cartenz juga menjadi simbol kegagalan global dalam menekan emisi gas rumah kaca. Menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan masih jauh dari cukup.

Simak dan ikuti terus informasi terlengkap tentang Archipelago Indonesia terlengkap yang akan kami berikan setiap harinya.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari www.detik.com
  • Gambar Kedua dari www.genpi.co

Similar Posts